Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengklaim bahwa Trump tidak memiliki kewenangan untuk mencabut hak Iran dalam memiliki program nuklir damai. Pezeshkian menegaskan bahwa setiap negara berhak pada hak nuklirnya yang tak bisa dicabut, tanpa campur tangan dari pihak luar. Pernyataan ini disampaikan setelah Trump mengancam akan mengamankan uranium yang diperkaya Iran dengan cara yang tidak bersahabat jika tidak tercapai kesepakatan. Pezeshkian menyoroti pentingnya hak asasi manusia untuk semua individu, tanpa memandang agama, ras, atau etnis. Ia juga mengecam serangan kriminal AS-Israel terhadap Iran dan menyalahkan organisasi-organisasi yang seharusnya menegakkan hak asasi manusia atas keheningan mereka. Selain itu, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran sebagai negara pasifis yang hanya berupaya membela diri secara sah dan tidak akan pernah menjadi inisiator konflik apapun. Ia juga memberikan apresiasi kepada Angkatan Bersenjata Iran yang telah tegas dan teguh dalam menghadapi serangan militer ilegal AS-Israel, serta menunjukkan kesungguhan dalam memberikan respons terhadap musuh.autoload-fit-cÔøΩntainer
Presiden Trump sebelumnya mengancam untuk mengambil stok uranium yang diperkaya Iran secara paksa jika tidak tercapai kesepakatan, serta menegaskan bahwa tidak akan ada pungutan di Selat Hormuz. Ancaman Trump ini menimbulkan kontroversi dan ketegangan lebih lanjut antara kedua negara. Trump bahkan menyatakan bahwa AS akan masuk ke Iran dan membawa uranium tersebut kembali ke Amerika. Pernyataan ini menunjukkan situasi yang semakin memanas dan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Selanjutnya, situasi ini memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar di kawasan tersebut, yang dapat berdampak negatif pada stabilitas dan perdamaian regional.












