Berita  

Prancis Minta Sidang Darurat PBB Bahas Serangan Israel-Lebanon

Prancis Desak Sidang Darurat DK PBB Imbas Serangan Israel ke Lebanon Selatan

Pemerintah Prancis telah mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras tindakan militer Israel di Lebanon Selatan. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, bahkan telah meminta adanya sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sebagai respons terhadap operasi militer Israel tersebut. Menurut Barrot, tindakan Israel tersebut tidak dapat diterima dan dianggap sebagai kesalahan serius.

Serangan Israel dan Respons Hizbullah

Pasukan pertahanan Israel (IDF) telah merebut Kastil Beaufort yang strategis di Lebanon Selatan, sesuai dengan pernyataan resmi yang telah dikeluarkan sebelumnya. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, lantas memerintahkan pasukan militer setempat untuk memperluas operasi mereka melawan gerakan Hizbullah di Lebanon. Hal ini tentu saja menimbulkan ketegangan yang semakin membesar antara kedua negara tersebut.

Akibat serangan yang semakin meluas dari Israel ke wilayah Lebanon Selatan, Hizbullah pun memberikan respons dengan menyerang kembali dengan serangan roket yang semakin gencar ke sejumlah kota di Israel. Hal ini membuat suasana menjadi semakin tegang, dan masyarakat pun dilanda ketakutan akibat sirene peringatan serangan udara yang terus berkumandang di beberapa wilayah terkena dampak.

Tanggapan dan Tindakan Kedua Negara

Pemerintah Prancis, sebagai salah satu negara Eropa yang turut prihatin dengan konflik tersebut, telah mengambil langkah tegas dengan meminta sidang darurat DK PBB segera digelar. Mereka menilai bahwa invasi Israel ke Lebanon Selatan merupakan hal yang tidak dapat diterima dan harus segera direspons dengan serius oleh komunitas internasional. Tindakan Prancis ini diharapkan dapat membantu menekan eskalasi konflik yang semakin memanas di kawasan tersebut.

Netanyahu, sebagai pemimpin Israel, telah menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon Selatan akan terus diperluas hingga kontrol wilayah yang dikuasai Hizbullah dapat direbut sepenuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Israel dan Lebanon masih jauh dari kata selesai, dan situasi di Timur Tengah semakin rumit dengan adanya konflik bersenjata yang terus berlanjut.

Source link