Berita  

Ancaman Keamanan di Selat Hormuz: Dampak di Negara Asia

Pada hari Selasa, 3 Maret 2026, sejumlah negara di Asia mulai merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat, Israel, dan Iran, seiring dengan keterjebakan kapal-kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur energi utama di dunia.

Beberapa operator pelayaran telah berhenti melintasi selat tersebut dikarenakan biaya asuransi yang melonjak dan kekhawatiran atas keamanan. China secara tegas menyebut jalur perairan tersebut sebagai rute perdagangan internasional yang krusial dan mendesak adanya penghentian segera dari operasi militer.

Dalam tanggapannya terhadap pertanyaan koresponden Anadolu Agency, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan pentingnya stabilitas di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya dalam konteks perdagangan global. Media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz telah ditutup secara efektif setelah serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel, namun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.

Lebih dari 40 kapal yang terkait dengan Jepang, termasuk kapal tanker minyak, saat ini tertahan di Teluk Persia, dengan setidaknya tiga kapal menghentikan usaha mereka untuk melintasi Selat Hormuz. Indonesia mengimpor sekitar 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah, yang sebagian besar melalui jalur perairan ketat tersebut.

Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, meminta Duta Besar Iran untuk Tokyo, Peiman Seadat, untuk membantu memastikan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Malaysia dan Pakistan juga mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi gangguan di selat tersebut. Selat Hormuz mengelola sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan signifikan dalam ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sebagian besar konsumsi minyak global, sekitar 20 juta barel, melintasi koridor ini setiap hari.

Source link