Berita  

KH Ma’ruf Amin dan Gus Salam: Mengembalikan Jati Diri NU

Ahmad Samsul Rijal, Koordinator Bidang Pengkaderan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur periode 2018-2023, mengkritik kinerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama masa jabatan 2021-2026. Menurutnya, kepemimpinan PBNU saat ini masih menjadi sorotan terutama dalam satu tahun terakhir. Ahmad Samsul Rijal menyebut bahwa publik NU menginginkan pemimpin yang teduh, berkarakter, dan bisa membangkitkan kebanggaan terhadap organisasi. Dia juga menyoroti isu infiltrasi zionisme di organisasi serta dukungan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya terhadap masalah krusial seperti keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang dinilai bikinan Donald Trump untuk kepentingan Amerika dan Israel, atas nama perdamaian di Gaza, Palestina.

Ahmad Samsul Rijal memandang bahwa PBNU saat ini terbelit isu karena kepemimpinan yang dinilai melompat-lompat dan tidak fokus pada lapangan khidmat yang semestinya. Dia berharap Muktamar ke-35 NU di bulan Juli 2026 atau sebelumnya menjadi forum refleksi dan pergantian kepemimpinan PBNU sehingga organisasi kembali pada jalan yang benar. Dia mengungkapkan harapannya terhadap pasangan KH Ma’ruf Amin dan KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam sebagai pemimpin ideal PBNU ke depan. KH Ma’ruf Amin dikenal sebagai ulama konseptor ekonomi syariah Indonesia dan pelopor industri keuangan syariah. Sementara Gus Salam memiliki genetika dari kakeknya, KH Bishri Syansuri, salah satu pendiri NU. Dengan berbagai keahlian dan kepribadian yang dimiliki keduanya, diharapkan PBNU dapat kembali memenuhi harapan Nahdliyyin dan menghadapi tantangan zaman dengan lebih efektif.

Source link