Integrasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI dinilai semakin penting untuk menghadapi ancaman pertahanan modern yang berkembang secara kompleks dan cepat. Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto mengatakan, seluruh unsur pertahanan harus mampu beroperasi sebagai satu kesatuan yang efektif dan terkoordinasi.
“Lingkungan strategis saat ini menghadirkan ancaman militer, nirmiliter, dan hibrida yang berkembang cepat. Kondisi tersebut membuat operasi pertahanan tidak cukup mengandalkan jumlah platform atau daya hancur senjata,” ujar Donny di hadapan awak media di Jakarta, sebagaimana dikutip pada Minggu (4/10/2026).
Interoperabilitas mencakup sistem hingga personel
Menurut Donny, kemampuan interoperabilitas menjadi kunci dalam menghubungkan berbagai unsur pertahanan. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan kecocokan perangkat komunikasi, tetapi juga mencakup personel, doktrin, prosedur, data, jaringan, sensor, sistem komando dan kendali, serta platform senjata.
“Interoperabilitas tidak sekadar menyangkut kompatibilitas perangkat komunikasi. Kemampuan tersebut mencakup personel, doktrin, prosedur, data, jaringan, sensor, sistem komando-kendali, dan platform senjata,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kecepatan dalam memperoleh informasi dan ketepatan membangun kesadaran situasional atau situational awareness menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan ancaman. Keandalan sistem komando dan kendali juga menentukan kemampuan pertahanan dalam merespons dinamika operasi.
Dalam konsep network-centric warfare (NCW), Donny menyebut data yang akurat dan tersedia secara real-time dapat menjadi pengganda kekuatan. Karena itu, seluruh unsur pertahanan perlu terhubung agar dapat bertukar informasi dan bekerja secara terpadu.
Integrasi lintas matra dan sistem pendukung
Donny menuturkan, kekuatan darat, laut, udara, ruang siber, serta berbagai sistem pendukung perlu diintegrasikan. Integrasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan operasi gabungan yang lebih cepat, tepat, terkoordinasi, dan menentukan.
Ia berharap pembahasan mengenai interoperabilitas Alutsista TNI dapat menghasilkan rekomendasi yang konstruktif dan bisa diterapkan. Menurutnya, seluruh pembahasan harus tetap mengedepankan kepentingan pertahanan negara.
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pertahanan Nasional (DPN) mendorong sinergi antara pemerintah, TNI, lembaga riset, dan industri pertahanan. Sinergi itu diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi strategis dalam meningkatkan interoperabilitas Alutsista TNI sebagai bagian dari implementasi Perisai Trisula Nusantara.
DPN menilai interoperabilitas penting untuk memastikan Alutsista dari berbagai matra dan platform dapat saling bertukar data serta mendukung sistem komando dan kendali secara terintegrasi. Upaya tersebut diharapkan meningkatkan efektivitas operasi gabungan sekaligus memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional.












