Tim SAR Gabungan memperluas pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak setelah berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, Kabupaten Pandeglang, Banten. Memasuki hari keenam dan ketujuh operasi, penyisiran telah bergeser dari sekitar Selat Sunda hingga wilayah Samudra Hindia.
Perubahan sektor pencarian dilakukan setelah tim mengamati pergerakan arus laut di lapangan. Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengatakan arah arus menjadi salah satu dasar dalam menentukan wilayah penyisiran berikutnya.
“Hari ke-6 hari ke-7 sebenarnya kita sudah masuk di samudra Hindia, kita berdasarkan dengan pengamatan pergeseran arus. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan tim dalam menentukan area pencarian berikutnya,” kata Amrad, dikutip Selasa, 15 September 2026.
Pencarian Disesuaikan dengan Arus dan Cuaca
Menurut Amrad, evaluasi operasi selama tujuh hari, pemantauan arus, serta data kondisi laut menjadi pertimbangan dalam menentukan area pencarian. Tim masih mengerahkan kapal dan melakukan pemantauan dari udara, tetapi pelaksanaannya bergantung pada cuaca di lokasi.
Kondisi cuaca telah menghambat pencarian sejak awal operasi. Pada hari pertama dan kedua, situasi di sekitar Gunung Anak Krakatau belum memungkinkan penyisiran berlangsung secara optimal. Kendala kemudian berlanjut pada hari ketiga hingga keenam ketika kabut mengganggu pencarian melalui udara.
Amrad menjelaskan, helikopter masih dapat digunakan pada hari kelima, meski jarak pandang hanya sekitar 1,5 kilometer pada ketinggian 500 kaki. Namun, pada hari keenam, helikopter yang telah disiapkan tidak dapat diterbangkan karena kabut.
“Pada hari kelima, helikopter masih dapat melakukan pencarian namun dengan jarak pandang sekitar 1,5 kilometer pada ketinggian 500 kaki. Namun, pada hari keenam, helikopter yang telah disiapkan tidak dapat diterbangkan karena kondisi kabut,” ujarnya.
Tim Penyelam Masih Disiagakan
Metode penyelaman belum dapat dilakukan karena lokasi delapan orang tersebut maupun kapal cepat yang mereka gunakan belum ditemukan. Tim penyelam tetap disiagakan dan akan dikerahkan apabila titik keberadaan mereka telah diketahui.
“Kalau untuk metode penyelaman karena titik korban belum kita temukan, belum bisa kita pastikan untuk penyelaman. Namun tim kami tetap siap sampai dengan hal tersebut,” kata Amrad.
Delapan orang itu berangkat dari Dermaga Pegedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menggunakan kapal cepat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Lima orang di antaranya merupakan jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, serta Donal Husni yang berstatus jurnalis lepas. Tiga orang lainnya merupakan warga.












