Dari Huntington hingga Stepan, Melihat Profesionalisme Militer Secara Utuh

Dalam membahas konsep profesionalisme militer, kita sering berpikir bahwa militer profesional hanyalah pasukan dengan keahlian tempur, patuh pada otoritas sipil, dan fokus pada membela negara dari ancaman luar. Namun, realitas di banyak negara, khususnya anggota NATO, menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dari sekadar pembagian tugas yang kaku.

Profesionalisme militer tidak hanya diukur dari kemampuannya dalam pertempuran, melainkan juga terkait sejauh mana militer membatasi diri dari urusan sipil dan menempatkan tugas-tugasnya sesuai kebutuhan negara. Di negara-negara demokratis, tampak jelas bahwa batasan antara fungsi militer dan sipil tidak selalu tegas seperti yang selama ini dibayangkan para akademisi.

NATO, sebagai aliansi pertahanan, dapat dijadikan contoh. Setelah Russia menginvasi Ukraina, NATO memang kembali menekankan pentingnya pertahanan teritorial dan pencegahan ancaman eksternal. Namun, selain itu, tentara di negara-negara NATO melaksanakan beragam misi di luar peperangan konvensional: menjaga stabilitas di Kosovo, membimbing modernisasi pertahanan Irak, mengawasi perairan Mediterania, turut serta dalam pengawasan migrasi di Laut Aegea, dan memberikan dukungan kepada Uni Afrika.

Tak hanya itu, sejarah operasi NATO memperlihatkan peran yang makin beragam. Mereka pernah melakukan embargo, pembentukan zona larangan terbang, operasi kemanusiaan, rekonstruksi pasca-perang, hingga pencegahan pembajakan dan penanganan bencana. Pada even besar seperti Olimpiade Athena 2004, NATO bahkan aktif dalam perlindungan kegiatan sipil dengan menyediakan intelijen dan sistem pertahanan canggih. Semua ini tidak berarti NATO meninggalkan fungsi utamanya, melainkan justru menumpuk dan memperluas spektrum tugasnya sesuai tuntutan zaman.

Beragamnya peran tersebut muncul karena perubahan lanskap keamanan global. Setelah Perang Dingin, ancaman langsung diganti oleh tantangan seperti konflik internal, terorisme, gagal negara, hingga krisis kemanusiaan. Edmunds menyoroti bahwa desakan masyarakat, kepercayaan institusional, kebutuhan aliansi, tekanan anggaran, bahkan persepsi publik, semuanya turut memengaruhi peran militer.

Hal inilah yang memicu perdebatan tentang apa sebenarnya makna profesionalisme militer. Model klasik Huntington menyatakan profesionalisme berakar pada spesialisasi militer dalam mengelola kekerasan, dengan otonomi profesional yang terbatas pada aspek teknis dan tetap berada di bawah kontrol sipil. Dengan begitu, militer akan terpisah dari dinamika politik dalam negeri. Namun demikian, temuan Stepan di Amerika Latin membuktikan lain – ketika angkatan bersenjata diberi tanggung jawab keamanan dalam negeri dan pembangunan nasional, profesionalisme menuntut kemampuan ekstra di bidang sosial, ekonomi, dan birokrasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan intervensi dalam urusan domestik.

Jelas, profesionalisme militer tidak bisa lepas dari konteks politik, jenis mandat, dan ancaman yang dihadapi. Negara-negara Eropa, misalnya, telah melewati batasan model Huntington. Berbagai operasi Eropa di luar negeri, pengerahan untuk bantuan bencana, hingga peran dalam peacekeeping, semuanya menuntut keahlian non-militer seperti diplomasi, administrasi, dan penegakan hukum. Meski demikian, pelaksanaan tugas tersebut tetap terikat pada keputusan sipil, landasan hukum, serta prinsip akuntabilitas demokratis.

Pembagian peran antara otoritas militer dan sipil semakin rumit, seperti dijelaskan Schnabel dan Hristov: peran militer kini bisa internasional maupun domestik, tugas militer maupun non-militer, serta bersifat subsidiari alias hanya membantu institusi sipil. Dalam banyak kasus, militer membantu tanpa mengambil alih seluruh fungsi sipil—baik ketika mengawasi laut, maupun memberikan bantuan ketika bencana melanda.

Namun, pengembangan peran militer memiliki konsekuensi. Ketergantungan berlebih pada militer bisa melemahkan kapasitas sipil, mengaburkan garis akuntabilitas, hingga mengalihkan fokus dan sumber daya dari kesiapan tempur inti. Meski demikian, pengukuran risiko tidak semata-mata bisa dilakukan dengan sekadar memberi label tugas sebagai militer atau sipil. Yang perlu dipertanyakan adalah alasan pelibatan militer, keunikan keahlian yang diberikan, sumber kewenangan, mekanisme akuntabilitas, serta batas waktu dan tujuan pelaksanaan.

Fenomena ini terlihat jelas dalam praktik NATO, yang mampu memperluas spektrum tugas militernya tanpa otomatis menghilangkan prinsip subordinasi pada otoritas sipil. Esensi profesionalisme bukan hanya pada sedikit atau banyaknya fungsi, tetapi pada kejelasan mandat, siapa yang bertanggung jawab, dan adanya mekanisme kontrol demokratis.

Intinya, profesionalisme militer di era modern lebih dari sekadar isu spesialisasi peran maupun pembatasan kewenangan. Tantangan utama adalah menjaga agar setiap perluasan tugas tetap berada dalam koridor politik yang sehat, tunduk pada prinsip hukum dan subordinasi sipil, serta memastikan bahwa militer tidak melewati batas-batas yang seharusnya dijaga demi akuntabilitas dan demokrasi.

Sumber: Militer Profesional Tak Hanya Untuk Perang, Broto Wardoyo Soroti Batas Peran
Sumber: Militer Profesional Untuk Apa?