Yasser Arafat dan Memori yang Terus Diperebutkan

Selama bertahun-tahun, nama Yasser Arafat identik dengan perjuangan bangsa Palestina. Kisah hidupnya, yang penuh pelarian dari satu kota ke kota lain, memperlihatkan betapa sulitnya perlawanan rakyat Palestina menghadapi tekanan Israel dan pergolakan Timur Tengah. Dari Amman, Beirut, Tunis, hingga Ramallah, Arafat tak pernah berada di tempat yang benar-benar aman. Hidupnya penuh ancaman pemboman, pengusiran, hingga operasi intelijen asing. Banyak penulis seperti Barry Rubin dan Judith Colp Rubin dalam buku mereka menyebut perjalanan itu sebagai “odyssey” — sebuah pengembaraan panjang yang menandai ketekunan Arafat.

Di balik kelihaiannya bertahan di tengah ancaman dan peperangan, Arafat juga dikenal sebagai simbol dari nasionalisme Palestina dan bahkan menjadi wajah perjuangan bangsa tersebut di mata dunia. Melalui organisasi Fatah dan PLO yang ia pimpin, Arafat berhasil mengangkat status rakyat Palestina dari sekadar pengungsi menuju aktor politik yang diperhitungkan secara global. Tak jarang pertemuan internasional seperti Liga Arab, Gerakan Non-Blok, sampai PBB menghadirkan Arafat untuk menunjukkan bahwa isu Palestina adalah bagian dari perjuangan global melawan penjajahan.

Namun perjalanan itu tak pernah lepas dari serangkaian kekalahan dan krisis. Kekalahan militer PLO di Yordania dan Lebanon nyatanya tak menggoyahkan posisinya. Bahkan, menurut Rubin dan Rubin, Arafat tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dan penuh paradoks di Timur Tengah modern, karena selalu mampu bangkit dari krisis.

Figur Arafat menjadi begitu penting, sehingga lawan-lawan politiknya tidak cukup hanya berusaha mengalahkan dia lewat kekuatan senjata. Berbagai cara dilakukan untuk menghancurkan reputasinya, mulai dari serangan personal hingga penyebaran rumor tentang kehidupan pribadinya. Salah satu isu yang sengaja dihembuskan adalah tentang orientasi seksual Arafat, seperti yang pernah dilaporkan Al Jazeera dalam “Myth Buster: Killing Arafat”. Tuduhan seputar HIV/AIDS dan homoseksualitas berasal dari sumber-sumber yang dekat dengan intelijen Barat, meski sampai kini tak pernah ditemukan bukti medis yang menguatkannya.

Penulis Israel, Uri Avnery, juga menyatakan bahwa rumor-rumor semacam itu merupakan bagian dari perang propaganda Israel untuk melemahkan lawan politiknya. Sementara itu, orang dekat Arafat seperti Bassam Abu Sharif dalam memoarnya menolak tuduhan tersebut dan justru menegaskan bahwa Arafat menyukai wanita. Serangan ini lebih tampak sebagai upaya mendeskreditkan Arafat secara moral daripada berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tak hanya kehidupan pribadinya yang dipenuhi misteri, kematiannya tahun 2004 pun masih menjadi bahan spekulasi. Saat Arafat tiba-tiba terserang penyakit hingga akhirnya meninggal dunia di Paris, tidak ada autopsi dilakukan. Penyelidikan forensik di Swiss memang menemukan keberadaan Polonium-210 tak wajar di beberapa sampelnya, namun hingga kini kebenaran penyebab kematiannya tetap menjadi teka-teki besar. Bahkan tim ahli sendiri mengakui bahwa penyebab wafat Arafat mungkin tak akan pernah benar-benar terungkap, dan hipotesis tentang racun terus bertahan di diskursus publik.

Semasa hidupnya, Arafat terbiasa menghadapi lingkungan yang penuh intrik, operasi intelijen, hingga upaya pembunuhan. Ia lolos dari berbagai percobaan pembunuhan, pengepungan, hingga isolasi di Ramallah. Realitas politik di Timur Tengah memang keras, sehingga teori bahwa seorang pemimpin bisa saja tewas diracun bukan sesuatu yang di luar logika. Memoar Bassam Abu Sharif bahkan menyampaikan bahwa kesakitan Arafat mengingatkan dirinya pada kasus Wadi Haddad dari PFLP, yang diyakini diracun oleh Mossad beberapa dekade sebelumnya. Maka tak heran, dugaan Arafat dibunuh menyebar cepat di kalangan dekatnya.

Namun di tengah segala misteri dan rumor tersebut, kontribusi Arafat pada perjuangan identitas nasional Palestina tetap tak terbantahkan. Dalam berbagai pernyataan, ia selalu menjelaskan bahwa Palestina bukan sekadar soal wilayah atau konflik bersenjata, melainkan masalah eksistensi dan keberlanjutan ingatan kolektif bangsa Palestina. Ia menegaskan bahwa kebangkitan Palestina telah terwujud tidak hanya dalam memori rakyatnya, melainkan juga lewat institusi yang mewadahi perjuangan mereka.

Identitas Arafat menjadi wilayah pertarungan narasi: siapakah dia sebenarnya? Di satu sisi ia dianggap pahlawan anti-kolonialisme, di sisi lain ada yang mencapnya sebagai oportunis politik. Tubuh, reputasi, bahkan kematiannya menjadi obyek perebutan makna dan propaganda antara berbagai pihak yang punya kepentingan berbeda terhadap isu Palestina.

Begitulah Arafat: figur yang tidak bisa begitu saja dikerdilkan sebagai “teroris” oleh propaganda lawan, tapi juga terlalu rumit untuk disucikan tanpa cacat. Misteri seputar dirinya mempertegas kenyataan bahwa belum ada kata usai untuk pertarungan identitas, narasi, dan kemerdekaan Palestina. Selama simbol perlawanan itu masih hidup dalam memori dan pertarungan wacana, kisah Arafat — sekaligus persoalan Palestina — akan terus bergema.

Sumber: Yasser Arafat: Simbol Palestina Di Tengah Mitos, Propaganda, Dan Misteri Kematian
Sumber: Yasser Arafat Dan Politik Mitos